Senin, 26 Desember 2011

Artikel : Salahkah Kalau Ngapak...??

Standar Kompetensi
Memahami perilaku keteraturan hidup sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat
Kompetensi Dasar
Mendeskripsikan proses interaksi sosial sebagai dasar pengembangan pola keteraturan dan dinamika kehidupan sosial
 
Tertawa, melihat dengan sorotan tajam seolah-olah nampak sesuatu yang aneh, mengernyitkan dahi, dan bahkan mungkin memperlihatkan senyuman sinis dan sedikit tak ihklas. Mungkin itulah sedikit gambaran dari reaksi yang orang tunjukkan ketika mendengar orang lain berbicara dengan menggunakan dialek ngapak. Masih teringat dengan jelas, ketika dalam suatu mata kuliah ditugaskan untuk mempraktekan bahasa ngapak, teman-teman menertawakan layaknya sedang menonton acara komedi di TV seperti OVJ dan melihat para komedian melawak dan menghibur penonton di panggung hiburan, bahkan ada juga yang dengan sengaja merekam. Hari itu, saya benar-benar merasa menjalani profesi baru sebagai pelawak/komedian, sebuah profesi yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benak saya untuk dijalani menjadi seorang komedian.

Pendidikan yang Memerdekakan

Oleh : Akhmad Sudrajat

Pendidikan bukanlah sebuah proses penjinakkan (domestikasi), yang memandang individu sebagai makhluk liar yang harus dijinakkan oleh sang pawang. Demikian pula, pendidikan bukanlah proses cuci otak dengan memasukan doktrin-doktrin yang tidak sejalan dengan fitrah kemanusiaan yang dimilikinya.
Pendidikan semacam ini hanya akan menghasilkan manusia-manusia robot yang serba mekanistis. Menjadikan manusia tak ubahnya seperti burung beo, yang hanya sanggup berkata seperti apa yang diajarkan sang tuan atau menjadikannya seperti bebek, yang selalu mengekor pada yang lain. Tidak mandiri dan sangat miskin kreativitas!
Inilah pendidikan yang memenjarakan sekaligus mengingkari fitrah kemanusiaan, yang disadari atau tidak disadari, praktik pendidikan semacam ini tampaknya masih mewarnai pada sebagian kehidupan di negeri ini, baik pada lingkungan pendidikan formal maupun non formal.

Kepemimpinan Perempuan

Oleh : Akhmad Sudrajat
 Dalam pandangan tradisional, perempuan diidentikkan dengan sosok yang lemah, halus dan emosional. Sementara laki-laki digambarkan sebagai sosok yang gagah, berani dan rasional. Pandangan ini telah memposisikan perempuan sebagai makhluk yang seolah-olah harus dilindungi dan senantiasa bergantung pada kaum laki-laki.
Akibatnya, jarang sekali perempuan untuk bisa tampil menjadi pemimpin, karena mereka tersisihkan oleh dominasi laki-laki dengan male chauvinistic-nya. Dalam konteks pendidikan, Goldring dan Chen (1994) mengatakan bahwa para perempuan di Inggris Raya dan di manapun kebanyakan perempuan hanya berperan dalam profesi mengajar, namun relatif sedikit dan jarang ada yang memiliki posisi-posisi penting pemegang otoritas dalam sejumlah sekolah menengah perguruan tinggi dan adminsitrasi lokal pendidikan.

Mithos tentang Kreativitas

Teresa Amabile telah melakukan studi tentang kreativitas hampir selama 30 tahun, melalui kerjasamanya dengan para mahasiswa kandidat Ph.D, manajer berbagai jenis perusahaan dan mengumpulkan 12.000 jurnal harian dan serta berbagai aktivitas lainnya yang terkait dengan proyek kreativitas. Berdasarkan hasil telaahannya, ia mengungkapkan 6 pandangan yang keliru atau mithos tentang kreativitas yang terjadi selama ini. Keenam mithos tersebut adalah.